Selasa, 13 Maret 2012

yang terpendam


                                           Yang  Terpendam

Ia memandang berkeliling dengan cemas dan mengendap memasuki ruangan ibunya. Secara perlahan, ia menghampiri ibunya yang terlihat sibuk mengerjakan sesuatu.
Ia mendekati ibunya, lalu bersandar di pundak.
Ibunya heran lalu seketika mengakhiri pekerjaannya.
"Ada apa Anne?", ucap ibu.
"A...a..ku tidak apa apa", dengan suara cemas. Belum pernah ia secemas ini, belum pernah.
"Lalu?" tanyanya kepada Anne.
Belum sempat Anne menjawab, ibunya melangkah pergi meninggalkan dirinya.
-Terasa sangat menyakitkan, ibu pergi begitu saja, mengabaikanku-
Tangisannya semakin menjadi. Mata terlihat mulai bengkak dan sipit. Hidung memerah. Kedua tangannya menutup muka.
"Ibu tak tahu kenapa kamu sesedih itu," tanya sesosok wanita di hadapannya.
"Ibu?" Anne ternganga.
"Mana mungkin ibu meninggalkan gadis ibu sendiri dalam kesedihan," sambil memberikan selembar tisu.
"Ibu... untuk saat ini, aku tidak mengenal diriku sendiri. Aku merasa ada yang hilang. Rasa kehilangan dan penyesalan yang kian menumpuk. Aku begitu rapuh," sambil menunduk.
"Ternyata selama ini ibu salah, kukira kau gadis yang kuat dan tegar dalam menghadapi semua permasalahan dalam kehidupan remaja," sambil mengusap kepala Anne.
"Maaf bu, aku pura pura tegar seperti memakai topeng," terlihat muram.
"Ibu mendengar banyak cerita diluar sana, banyak anak perempuan yang terlihat serasi dengan ibunya ketika diajak curhat dan terbuka dalam kisah remajanya," nada canda.
"Maaf bu, aku bukan bermaksud gak percaya sama ibu. Hanya kupendam sendiri kisah ini. Aku takut. Takut jika ibu tidak mendengarkan kisahku dan menganggap kisahku tak penting ... sepele," Ia menggigit bibir.
"Anne-ku, Ibu juga pernah muda," tukas ibu. Anne tersenyum dengan lega.
Sesaat suasana kembali hening, lalu Anne memulai pembicaraan.
"Ibu, aku benci pada diriku sendiri. Tak seharusnya aku bersedih karena hal ini. Hal mengenai kehidupan remaja. Tentang bagaimana perasaan dicintai dan mencintai. Tentang bagaimana mengikhlaskan atas kehilangan. Tentang bagaimana mengatasi sebuah penyesalan yang mendalam. Seharusnya aku fokus pada masa depanku. Dan mengabaikan semua masalah ini. Namun, terasa sulit. Semakin sulit hingga aku terjatuh dalam lubang. Lubang sebuah drama," gerutu Anne.

"Ibu, jika ibu diberi kesempatan dapat memutar kembali waktu dan balik ke masa lalu, Apakah ibu mau? Mungkin dengan cara itu ibu dapat mencegah suatu perbuatan yang berujung pada penyesalan," lanjutnya.
"Tidak mau, karena jika ibu tak melakukannya, ibu tak akan belajar untuk memperbaikinya", ucap ibu bijaksana.
"Anne, ibu bangga padamu, kau semakin dewasa. Hal itu membuatmu menuju kedewasaan dalam perilaku dan pikiran," lanjut ibu dengan suara pelan.
"Tapi bu, itu semua menjadi kendala bagiku, mengganggu konsentrasi dalam proses pembelajaran. Aku menjadi tidak fokus"
"Itu hanya alasan dan kau hanya menerka nerka bahwa itu kendala. Pikiranmu yang membuatnya itu menjadi masalah.
Sesungguhnya hidup tanpa kisah seperti itu, akan terasa hampa dan datar. Percayalah," sambil menggenggam tangan Anne.
"Terimakasih, ibu. Ada satu hal lagi yang membayang bayangi dalam benakku. Di masa depan, Siapa jodohku ya, bu?" Anne sambil tertawa kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar